One-day itinerary in Taipei

Taipei itu kotanya asik banget buat ditelusurin seharian. Ada daerah pecinan-nya, taman kota, kuil, memorial hall, pasar malem, sampe gedung tertinggi di Taiwan ada di sini! Karena badan saya remuk setelah nonton konser coldplay malam sebelumnya di daerah Taoyuan, maka amannya memang berkeliling yang dekat-dekat saja.

Walaupun di peta terlihat jauh-jauh, tapi sebetulnya mudah aja tuh pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Kalau seneng jalan kaki dan pingin serba cepat, bisa naik MRT. Kalau lagi mager ya tinggal naik bus umum, haltenya buanyak banget ada di setiap persimpangan jalan. Berikut tempat-tempat yang saya kunjungi:

Chiang Kai-Shek (C.K.S) Memorial Hall

Waktu pertama kalinya liat wilayah ini dari luar stasiun C.K.S Memorial Hall (Green Line dan Red Line), saya langsung bengong. Wilayahnya gede abis! Komplek seluas 250.000 mini dibangun khusus untuk mengenang jasa presiden pertama Taiwan, Chiang Kai Shek. Gak cuma monumen memorial aja nih, tapi di dalam kompleks juga terdapat National Concert Hall dan National Theater sebagai wadah pertunjukkan seni dan budaya Taiwan.

Untuk melihat sosok C.K.S di hall utama, saya harus menapaki 89 anak tangga di bangunan utama setinggi 76 meter. Jumlah anak tangga 89 melambangkan umur presiden saat beliau wafat. Iseng-iseng, saya menghitung jumlah tangganya ketika naik. Belum sampai di atas, sudah lupa hitungan karena ngos-ngosan.

Sesampainya di hall utama, terdapat patung presiden C.K.S dalam posisi duduk. Ada pribahasa dalam Bahasa mandarin yang terpampang di samping kiri dan kanan patung. Saya bertanya kepada penjaga yang bertugas (yang lebih terlihat sebagai seorang bodyguard) dan ia menerjemahkan arti kalimat tersebut kepada saya. ”The purpose of life is to improve the general life of humanity” and “The meaning of life is to create and sustain subsequent lives in the universe“. Mungkin sudah standarnya setiap penjaga untuk menghafal fakta tentang monumen ini ya, jadi ga perlu tour guide lagi deh untuk menjelaskan! Kedua filosofis ini bagi saya tepat sasaran dan sangat relevan pada dunia saat ini. That’s my purpose of life too! To help and create a better life for those who haven’t got the opportunities due to lack of education or harsh environment. Salah satu hal yang paling dinanti oleh turis adalah penggantian shift penjaga di hall utama setiap jamnya. Namun karena tak sabar, saya turun aja deh setelah puas mengambil foto.

Chiang Kai-shek Memorial Hall
Chiang Kai-Shek Memorial Hall

Suasana di halaman kompleks menyenangkan untuk duduk dan bersantai. Warga Taiwan datang membawa anggota keluarganya, anak-anak berlarian di halaman rumput, dan turis yang sibuk mencari angle yang tepat karena gedung di belakangnya sangat besar. Udaranya sih gak terlalu dingin, mirip seperti Jakarta, tapi angin yang berhembus membuat saya kedinginan dan ingin membakar sebatang rokok lagi untuk menghangatkan diri. Duh, suasana kompleks yang nyaman buat saya lupa kalo saya lagi di pusat kota. Dimana ya bisa bersantai seperti ini di Jakarta?

Sun Yat Sen Memorial Hall

Sun Yat-sen Memorial Hall
Sun Yat-sen Memorial Hall

Hall ini dibangun untuk mengenang Sun Yat Sen, founding fathers dari negeri Cina. Dibawah one China policy, kita menyebut Taiwan sebagai Republik of China (ROC). Tentu tidak bisa singkat menceritakan sejarah antara Taiwan dan Cina. Silahkan googling sendiri jika kalian penasaran hehe.

Bangunan ini adalah versi “mini” dari C.K.S Memorial Hall. Patung Sun Yat Sen pun dibuat serupa dengan C.K.S, dalam posisi duduk. Saya sempat kebingungan dan beranggapan bahwa mereka adalah tokoh yang sama. Karena baru saja mengunjungi C.K.S Memorial Hall yang besar dan megah, kunjungan ke sini jadi ga berkesan lagi deh.

Taipei 101

Taipei 101 Building
Aristektur gedung yang sangat modern, dibandingkan dengan gedung-gedung lain di sekitarnya

It’s the highest building in Taiwan! Gedung dengan ketinggian 508 meter ini adalah kantor sekaligus pusat perbelanjaan barang-barang bermerk. Selain belanja, kamu bisa melihat seluruh kota Taipei dari observatorium yang terletak di lantai 89. Tenang, ga bakal disuruh naik tangga kok! Lift operasionalnya di-klaim super canggih, hanya butuh 37 detik untuk sampai ke observatorium tersebut. Biaya masuknya emang gak murah; harga untuk dewasa adalah NTD$600 (300 ribu) per orang. Sayangnya, waktu itu cuaca sedang hujan badai dan berawan. Gak ada gunanya toh naik ke atas kalo ga bisa liat apa-apa? Tapi tetep aja saya liat banyak yang nganti bejibun depan lift. Saya langsung tau kalo mereka peserta tur, karena ada tour leader yang teriak-teriak pake toa. Buset dah, di dalam gedung gini masih pake toa! Bertambah lagi satu alasan saya males ikut tur; itinerary gak bisa flexibel mengikuti kondisi cuaca. Oh ya, buat kamu yang hobi trekking, di dekat Taipei 101 ada jalur pendakian Xiangshan. Kamu bisa melihat pemandangan seluruh kota Taipei, gratis! Banyak yang justru mendaki di sore hari, mengincar pemandangan malam penuh kemerlap lampu kota. Andai cuaca mendukung……

Longshan Temple dan Bopilao Historical Block

Bopilao Historical Block
Bangunan bergaya rustik dilebur dengan teknologi modern (lift). Konsepnya keren!

 

Terletak di wilayah Wanhua, kedua lokasi ini saya kunjungi simply karena dekat dengan hostel saya. Daerah Bopilao merupakan wilayah konservasi yang ditujukan untuk menceritakan sejarah perkembangan media Taiwan. Satu gang ini penuh dengan bangunan-bangunan lama berdinding batu bata. Sayangnya, gak ada satu pun yang menarik mata saya untuk melihat-lihat lebih dalam. Gedung-gedung terlihat sepi dan tidak ada papan informasi untuk dipelajari.

Longshan Temple
Jangan lupa untuk menjaga ketenangan saat mengunjungi tempat-tempat beribadah 🙂
Longshan Temple
Atap emas di kuil ini yang silau menyala karena pancaran sinar matahari

Destinasi saya berikutnya adalah Kuil Longshan yang terletak persis di depan stasiun MRT Longshan (Blue Line). Wah disini sih wilayahnya bronx banget. Banyak pengemis dan pemulung yang tinggal di pinggir stasiun. Saya buru-buru masuk ke halaman kuil aja karena gak nyaman. Nampaknya hari itu adalah hari perayaan, karena banyak sekali yang hadir. Mereka bergantian menyalakan dupa, memberi persembahan, dan membacakan doa dengan khusyuk. Ada pengalaman memilukan saat saya bertemu dengan seorang biksuni di pintu keluar. Saya sedang melihat peta di smartphone. Tanpa tersadar, dia sudah berlutut di samping saya, membungkukkan kepala sampai serendah kaki saya seraya menangis. Saya memberinya sedikit uang, membungkukkan kepala, dan segera pergi dari tempat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s