A Head Full of Dreams Concert, Taiwan

Coldplay is coming to South East Asia??? Jantung saya berdegup kencang saat membaca berita tersebut di website resmi mereka. Kalo ditunggu-tunggu sampe tabungan saya cukup, rasanya keburu mereka gak menggelar konser lagi. Seketika travelling sense saya bekerja – mencari jadwal konser yang pas dengan cuti, tiket pesawat termurah, negara yang cocok untuk dikunjungi, dsb. Pilihan jatuh kepada Singapura atau Taiwan. Nonton di Singapura pasti lebih murah (karena dekat dan gaperlu visa), terlebih banyak temen yang mau diajak, tapi saya males karena udah kesana dua kali.

Atas dasar se-simpel itu, akhirnya ya saya mutusin untuk solo-travelling ke Taiwan. Membayangkan tinggal sendiri di negeri yang asing tidak membuat saya takut, melainkan bikin tambah semangat! Bisa ngobrol dengan sesama turis di shared room hostel, punya jadwal itinerary yang serba flexibel, sekaligus melatih hidup mandiri. Saya gak bisa bahasa Mandarin, tapi saya yakin anak-anak muda di sana fasih berbahasa Inggris.

Why did i love Coldplay so much? Sekarang saya tanya balik, pernah gak sih kamu ngerasa emosional banget tapi gak tau cara mengekspresikannya?  Nah, salah satu media untuk mengekspresikan emosi itu ya dengan musik. Mau sedih, susah, senang, semangat, atau bahkan saat putus asa, saya lewati dengan mendengarkan musik. Terlebih lagu-lagu dari album lama Coldplay; mereka bisa langsung buat mood saya naik lagi. Really guys, music heals the soul.

Konser Coldplay diselenggarakan di HSR Taoyuan Station Plaza. Lokasinya outdoor dan jauh dari pusat kota. Saya sempat kebingungan di Stasiun Taipei karena sistem pembelian tiket tidak terintegrasi dengan kartu EasyCard yang saya miliki. Untungnya, bala bantuan datang dari warga Taipei yang memang dikenal sangat ramah. Kami berkenalan dan ternyata dia juga nonton konser Coldplay! Saya gak ingat namanya, tapi saya panggil dia “Man”. Man bekerja sebagai tukang kebun di Yilan. Sepanjang kereta kami mengobrol dan ia menunjukkan foto-foto travellers yang sudah hidup nomaden, alias hidup dari satu negara ke negara lainnya. No worries or envy though; i just had to take one step at a time. Someday i will. 

Kami berpisah di gate depan, mengantri sesuai kelas tiket masing-masing. Man diam-diam menghampiri dari belakang dan menempelkan sesuatu yang dingin di leher saya. Saya terkejut melihat bir dingin di tangannya. Dia tersenyum dan memberikan bir tersebut kepada saya. “Best damn beer in Taiwan bro, you have to try it!”. Saya hanya bisa cengok. Dia sampe bela-belain keluar antrian buat beli bir di stasiun terdekat, hanya untuk dikasih ke gue? I will never forget his token of gratitude. God Bless You Man, i hope you’re reading this column. It was indeed the best damn beer in Taiwan.

Ada banyak hal yang bisa kita contoh dari masyarakat Taiwan, salah satunya adalah budaya tertib. Kalian yang sering nonton konser pasti tahu rasanya mengantri berdesak-desakan di tengah pagar tinggi dan kumpulan petugas keamanan berbaju ketat dan berkacamata hitam.  Di sini, antrian masuk menuju panggung utama hanya dipisahkan oleh tali rafia antara satu kelas tiket dan kelas lainnya.  Boro-boro hire petugas keamanan, semua petugas yang berjaga rata-rata anak kuliahan yang nyari tambahan uang (plus nonton konser gratis tentunya!). Tanpa ocehan dan arahan dari petugas, semua penonton seakan tau harus berperilaku seperti apa.

Panitia sempet ngebuat suasana ricuh, karena memberitahukan bahwa sistem masuk panggung akan dibuat batch-per-batch, dimulai dari pengunjung dengan nomer tiket yang lebih kecil. Mana ada aturan seperti itu? Kalau membeli tiket konser berdiri (standing ticket), maka udah kodratnya first come first served. Buat apa saya dateng cepet-cepet kalo ujungnya harus ngalah sama yang baru dateng?

Tanpa protes berkepanjangan, penonton mengikuti aturan yang ada. Mereka paham bahwa tidak ada gunanya marah berkepanjangan ke panitia lapangan, karena mereka bukan decision-maker. Saya sendiri gedek banget, karena udah ngantri dari jam 3 sore (mereka main pukul 8 malam). Tapi yaudah lah, mau gimana lagi?

Andai kejadian yang sama terjadi di Indonesia, pintu masuknya pasti udah jebol diserbu masuk. Ga percaya? Tanya aja anak generasi 90an yang dulu rajin ke pensi SMA negeri. Kalo band-band seperti Seringai, /Rif, atau Koil manggung, mending dateng agak nge-pas karena pintu gerbang biasanya jebol 15-20 menit sebelum mereka main. Alamat nonton gratis deh! hehe

Malam itu, Coldplay membawakan semua lagu dari album barunya, A Head Full of Dreams, diselingin lagu-lagu wajib dari album lama mereka (Yellow, Fix You, Viva la Vida, etc). 2 jam mereka bernyanyi, 2 jam pula seisi stadium diguyur hujan. Ambil sisi positifnya aja Van, gaada yang ngeluarin smartphone dan semua enjoy mendengarkan, menari, dan menyanyi dari lubuk hati terdalam. Itulah esensi dari konser yang sesungguhnya – feel everything LIVE. Coba diliat lagi, seberapa sering sih kamu menonton ulang rekaman konser di smartphone mu? Hehe

Coldplay Concert, TaiwanColdplay Concert, TaiwanColdplay Concert, TaiwanColdplay Concert, TaiwanColdplay Concert, TaiwanColdplay Concert, Taiwan

Coldplay Concert, Taiwan
Foto-foto konser diambil dari akun sosial media resmi Coldplay

Sungguh, capek banget bro nonton konser Coldplay. Total 10 jam saya berdiri di lapangan itu. Mau kencing aja sampe males saking jauhnya, toh gak keliatan juga karena basah kuyup! Hahaha. I mean c’mon, who is willing to cross thousands of people during concert just to pee? 

Di kereta pulang menuju Taipei, saya udah bungkuk-bungkuk karena pinggang pegel banget. Ngarep dikasih kursi sih sebetulnya, hehe. Being a bit tall has its disadvantages, salah satunya ya gakuat berdiri terlalu lama. Gak lupa sebelum tidur saya ngejalanin ritual; ngoles counterpain & nempel koyo cabe. Mata belum merem, sayup-sayup terdengar ocehan dari balik sebelah. “Oh My God, What is this smell?!“. Ooops, sorry!

2 Replies to “A Head Full of Dreams Concert, Taiwan”

  1. Hi Van! Gara2 loe click join event CS this Friday, gw jadi tau loe ada blog (kepoin profile loe).. 😀 Anyway.. itu cerita Counterpain and Koyo Cabe.. hahaha.. makes my day! Gw jadi bangga jadi orang Indonesia. Hanya kita yang paham bau2 gituan.. 😀 Keep on blogging, man… All the best.

    Like

    1. Thanks Sheila udah main-main ke blog gw hehehe, really appreciates your support.
      Yah begitulah ciri khas orang Indo, mungkin lain kali kita harus ngajarin bule juga buat ngerokin, in case kita “enter wind” dan ga ada temen buat ngerokin, haha!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s